“Lebih baik menjadi kristen, daripada hidup melarat!”

Kalimat itu keluar dari seorang ibu. Naudzubillahi mindzalik? Ada apa gerangan yang terjadi sehingga kalimat “mengerikan itu bisa terucap dari lisannya?

Lewat tulisan ini akan kuceritakan satu kisah memilukan yang telah menimpa seseorang teman kecilku yaitu ada seorang ibu yang berani mengeluarkan kalimat –sekali lagi—“mengerikan “ itu.

Kami berteman sejak kecil, bukan hanya kami sekelas di Sekolah Dasar, tetapi ia juga tetanggaku. Meskipun musholla tempat kami belajar membaca al-qur’an berbeda, tapi aku mengenalnya sebagai sosok yang sangat rajin datang ke musholla.

Kehidupannya diluar gedung sekolah menjadikannya masuk ke dalam pergaulan muda-mudi yang bebas. Ia bebas keluar ke tempat mana saja yang ia inginkan dan bebas berteman dengan siapa saja yang ia mau. Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak mau terikat dengan rumah.

Dalam lingkungan pergaulan itulah ia bertemu dengan seorang pemuda yang beragama kristen. Dan ternyata perkenalan mereka berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Anehnya hubungan mereka itu tidak di tentang oleh orang tua sang gadis dan tidak mempermasalahkan perbedaan agama diantara mereka, ini tentulah karena pemahaman agama yang masih awam.

Saat mereka merencanakan ke jenjang pernikahan. Ibu sang gadis malah berkata, “jika pernikahan mereka nanti bisa menaikan taraf ekonomi keluarga, kami akan mendukungnya. Lebih baik menjadi kristen daripada hidup melarat. Saya sudah bosan hidup melarat.” Naudzubillahi min dzalik.

Dan akhirnya pernikahan itu dilansungkan di greja setelah keluarga si gadis menerima syarat dari orang tua laki-laki. Namun dalm pernikahan tersebut tak ada orang yang datang memenuhi undangannya kecuali sedikit. Karena masyarakat sekitar mengganggap bahwa itu pernikah kristen dan apabila mereka datang berarti mereka menyetujui kemurtadan wanita itu.

Lihatlah, bukan hanya makhluk langit yang melaknat perbuatan mereka, tapi manusiapun juga enggan untuk memuliakan mereka, bahkan mereka menghinakannya. Sungguh, kita pentas berduka untuknya.

Apakah kisah seperti diatas mampu menggetarkan hati kita untuk menjadi manusia bermanfaat dan mengobarkan semangat kita untuk semakin giat berilmu. Mempelajari addin (agama) ini dengan benar agar dapat kita bagi dengan saudara-saudara kita. Sehingga kata “murtad” pun akan sangat langka terdengar di telinga karena aqidah ini tidak akan rela kita jual dengan apapun.