Pagi ini hari sangat cerah, membangunkan Dinda dari tidur lelapnya karena hari ini Dinda akan memulai Ujian Praktek di sebuah Rumah Sakit ternama di Bandung. Di hari pertama Dinda praktek, Dinda bersiap-siap seperfect mungkin karena dia merasa penampilan seorang
dokter itu juga perlu bukan untuk gaya-gayaan tapi dengan penampilan rapi semua pasien yang kita periksa akan senang menatap kita. Beda dengan Dokter yang berpenampilan seenaknya sendiri awut-awutan bisa-bisa pasien yang mau periksa bisa kabur semua …ha…….ha.Setelah semuanya siap Dinda keluar dari kamar dan menyantap sarapan yang sudah tersedia di meja.

“Pagi Ma?”

“ Pagi sayang, gimana persiapannya untuk praktek hari ini?”

“Udah beres donk Ma, Dinda udah siap lahir batin”

“Kamu ini kaya mau nikah aja siap lahir batin!”

Dinda hanya membalasnya dengan senyuman lebar.

“O….ya kapan kamu ngenalin pacar kamu ke Mama ?”

“Mama apa sich Dinda itu nggak punya pacar Ma !!!”

“Masak umur setua itu belum punya pacar?”

“Ma, Dinda itu mau kerja dulu, bahagiain Mama baru Dinda cari pacar terus menikah dech, udah dulu ya Ma, Dinda mau berangkat dulu takut telat”.

“Ya, hati-hati”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”

Dinda langsung mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, sampai di rumah sakit Dinda langsung menjalankan kewajibannya menjadi seorang dokter. Hari sudah di lalui Dinda di rumah sakit dan Dinda sudah mempunyai banyak teman yang seprofesinya, saking ramahnya Dinda juga sering ngobrol dengan perawat, office boy bahkan pasiennya. Hari ini Dinda piket malam untuk mengurangi rasa ngantuknya Dinda ke dapur rumah sakit untuk membuat secangkir kopi. Dinda dikagetkan oleh seorang office boy.

“Dokter Dinda, ya!.”

Dinda tercengang “Pak Kumis ngagetin aja!”

“Maaf Dok, habis dokter Dinda sendirian disini lagi ngapain Dok?”

“Ni lagi buat kopi, ngantuk Pak!”

“Kenapa tidak telepon Bapak saja Dok!”

“Gak apa-apa Pak sekalian jalan-jalan”.

Setelah keluar dari dapur, tidak lama kemudian seorang suster memanggilnya karena ada pasien yang baru datang dan membutuhkan pertolongan yang cepat.

“Ada pasien Dok, kelihatannya sangat parah “

“Iya Sus, Ayo kita kesana sekarang!”

“Kopinya Dok !”

“Oh ya ini Pak tolong simpan dulu, nanti saya minum lagi”

“Saya taruh di kantor ya Dok?”

“Iya” jawab Dinda sambil berjalan cepat menuju UGD.

Ternyata korban kecelakaan lukanya sangat parah, jika dalam dua hari pasien tidak ada perkembangan, pasien akan koma dan itu benar-benar terjadi. Pasien itu bernama Rendra dia masih muda, mungkin seumuran dengan Dinda. Keluarga Rendra sangat sedih melihat Rendra yang tergulai lemah tidak berdaya. Keluarganya sudah pasrah dan ikhlas jika sewaktu-waktu Rendra diambil oleh Sang Maha Kuasa. Tetapi Dokter Dinda selalu memberi nasehat kepada keluarga Rendra agar selalu mendukung Rendra agar cepat sadar. Semakin lama keluarga Rendra sudah jarang ada yang menungguinya. Dokter Dinda yang setiap hari memeriksanya, seakan mendapat bisikan agar dia selalu memberi semangat dan merawat Rendra. Hari demi hari dokter selalu bersama Rendra, dokter mengajak Rendra mengobrol dan bacakan buku cerita, bahkan membaca Al-Qur’an ketika waktu sholat tiba. Setiap malam ketika langit sedang terang, bintang-bintang yang bertaburan dan bulan yang bersinar terang, Dinda berdo’a supaya Rendra masih diberi kesempatan untuk hidup.

Bulan seakan-akan memberikan kekuatan pada Rendra karena malam itu Rendra mengalami perubahan, dia sudah bisa meggerakkan jari-jari tangannya. Itu suatu perkembangan yang sangat bagus sekali. Berangsur-angsur kesehatan Rendra mulai membaik dan dia sekarang sedang melaksanakan terapi agar dia bisa berlajan kembali seperti sedia kala. Tentunya Rendra dan dokter Dinda semakin dekat dan saling mengenal satu sama lain. Dokter Dinda selalu menemaninya saat terapi mengajak Rendra jalan-jalan mengelilingi taman rumah sakit. Akhirnya Rendra sudah bisa pulang ke rumah lagi. Tentunya dokter Dinda juga bekerja seperti sebelum-sebelumnya karena sudah tidak ada pasien yang harus di beri perhatian ekstra. Selang beberapa minggu kemudian Rendra yang sudah sembuh seperti sedia kala mendatangi dokter Dinda ke rumah sakit dan membawa sebuah rangkaian bunga untuk dokter muda dan cantik yaitu dokter Dinda.

“Dokter terimalah ini sebagi ucapan terima kasih saya, karena dokter sudah merawat saya selama ini”.

“Sama-sama itu  sudah menjadi kewajiban saya.”

Ternyata Rendra adalah seorang Dokter. Setelah beberapa bulan berhubungan akhirnya mereka berdua menikah dan memutuskan untuk tinggal di sebuah desa di daerah puncak dan bekerja di sebuah puskesmas disana. Karena mereka ingin hidup di lingkungan yang warga masyarakatnya masih menjunjung tinggi semangat kegotong-royong sehingga mereka merasakan keluarga yang tidak hanya keluarga kecil mereka sendiri tetapi keluarga besar masyarakat disana. Yang bisa memberi semangat dan saling tolong menolong satu sama lain karena bagi mereka ini lah hidup yang sebenarnya.

**************************SELESAI*******************************